Nova_eins's Blog

Just another WordPress.com weblog

Di Pelajaran Kosong…

Ku sambut pertengahan bulan Ramadhan dengan penuh suka cita. Tak terasa hari kemenangan itu akan segera datang. Datang kepada orang-orang yang memperoleh kemenangan. Akankah datang kepadaku? Mungkin tidak, mungkin saja iya.

Dan kini aku duduk di sebuah bangku di sekolah yang baru aku jajaki selama 2 bulan ini. Ya… nasib seorang anak baru tidaklah terlalu baik. Di sini aku merasa senang dan terkadang sedih menyelimuti hatiku. Tapi, pasti itu tidak akan berlangsung lama. Hanya butuh proses untuk melewati semua itu. Suasana kelas riuh, banyak aktifitas di dalamnya. Canda, tawa, teriakan, semua terdengar jelas. Tas-tas hanya tergeletak begitu saja di atas meja ataupun kursi. Beginilah suasana kelasku jika guru yang seharusnya mengajar tidak melakukan tugasnya karena suatu hal. Semua tampak senang.

Tugas pun diberikan oleh seseorang pegawai BK dengan maksud meredam kebisingan agar tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas sebelah. Tetapi ttap saja, keributan tetap menjadi raja untuk saat ini. Semua tampak enjoy dengan keadaan kali ini. Tak apalah me-rilekskan diri selama pelajaran ini setlah seharian mendapatkan materi-materi pelajaran yang sangat susah. Sempat terfikir dalam otakku siapa yang membuat konsep-konsep belajar seperti itu awalnya.

Fikiranku pun beralih ke handphone kesayanganku, kali-kali ada sms ataupun panggilan yang terjawab tercatat di layar. Ternyata tidak ada satupun yang masuk. Aku putuskan untuk mendengarkan lagu-lagu. Aku sangat menyukai lagu-lagu yang ada karena semuanya sedang hits di pasar musik. Selain itu, musiknya juga enak untuk didengar dan mudah untuk dinikmati.

Musik masih terputar tapi, aku teringat dengan nilai ulangan harianku yang cukup mengagetkan. Nilai yang sangat jelek. Huuh…! Tak apalah untuk kali ini, yang penting esok hari jangan terulang kembali.

Wow… tampaknya kini suasana kelas semakin gaduh. Hingga seorang guru yang sedang mengajar di kelas sebelah datang dan menegur kami semua. Untuk sesaat kelas kembali tenang. Tapi itu hanya sesaat. Tak berapa lama kemudian terdengar kembali suara-suara gaduh itu. Akupun hanya tersenyum melihat tingkah teman-temanku yang berulah lucu.

Hingga akhirnya, bel berbunyi. Tanda jam pelajaran usai, tanda sekolah hari ini selesai. Aku bergegas memasukkan buku-buku ke dalam tas. Tak lupa hp kesayanganku, aku masukkan dalam kantung rokku. Akhirnya, aku akan kembali ke rumah, kembali bersantai di kamarku yang nyaman. Tapi besok, mau tidak mau aku harus melakukan kegiatan dan rutinitas yang sama seperti hari ini, dan aku benci dengan hal itu.(Nv)

(15 September 2009)

supernovaeins.wordpress.com

February 11, 2010 Posted by | Uncategorized | | Leave a Comment

Nasib Sebuah Sepatu

Hari ini tidak seperti hari biasanya di kala musim kemarau. Dimana sangat terasa matahari menghujani bumi dengan teriknya sinar yang ia pancarkan. Jalanan berwarna kuning, orang-orang pun enggan menampakkan diri walaupun hanya sebentar berada di luar rumah tanpa sebuah perlindungan. Entah itu sebuah payung, topi ataupun jaket peredam panas.

Hari ini memang panas, tetapi teriknya matahari tidak terasa di bumi ini. Jarum-jarum sinarnya tidak lagi menusuk kulit hingga menembus tulang. Angin sepoi-sepoi datang menghampiri. Mengibaskan rambut panjangku yang sangat aku banggakan. Menyejukkan meskipun hanya sekejap. Dalam hati aku berkata, “Sepertinya hari sedang bersahabat denganku,” Aku bisa menyusuri jalan pulang dengan santai tanpa merasa lelah, panas dan peluh yang bercucuran. Ya, itu karena aku berjalan kaki sepulang sekolah dengan menempuh jarak 3 km. Itu sangat berat bagiku. Tak pernah aku bayangkan orang-orang penantang hidup yang dapat menempuh jarak belasan hingga puluhan km dengan berjalan kaki untuk mencapai suatu tempat.

Dan kini, sesuatu jatuh ke wajahku. Basah dan dingin. Aku tadahkan tangan dan ada lebih banyak lagi yang jatuh. Hujan. Semakin lama semakin deras. Segera aku berlari ke sebuah halte yang ada di dekat sungai yang sedang aku lintasi ini. Benar saja, baru saja kepala terlindung atap halte, hujan turun dengan lebatnya. Membasahi seluruh jalanan dengan cepat. Meredam debu-debu yang ada selama kemarau ini.

Tak berapa lama aku mulai menikmati duduk sendiri memandangi lalu lalang kendaraan yang terburu-buru untuk mencari tempat berteduh atau untuk segera sampai ke suatu tempat tujuan. Kini, aku berfikir kembali, “ Hujan di tengah musim kemarau?” Ya, mungkin aneh, karena saat ini alam tidak seperti dulu, yang selalu menunjukkan suatu gejala yang tepat bila sudah saatnya. Untuk saat ini aku sedang malas membahas hal ini. Birlah para ilmuwan yang mencari permasalahan dan solusinya. Yang aku fikirkan saat ini hanyalah, bagaimana caranya aku bisa sampai rumah? Sedangkan hujan turun dengan lebatnya. Akupun berubah fikiran, “Ah! Hari ini sedang tidak bersahabat denganku!” Semua basah dan aku kedinginan.

Rasa bosan mulai menyelimuti hatiku. Aku sangga kepala dengan kedua tanganku. Menunggu dan berharap hujan segera reda. Tiba-tiba aku teringat dengan sungai yang ada di belakang halte ini. Akupun menuju bagian belakang halte untuk melihat aliran sungai yang deras. Kebetulan atap halte luas hingga ke belakang, jadi, aku tidak kehujanan. Ternyata, deburan air sungai lebih ramai daripada lalu lalang kendaraan. Tetapi sayang, sungai di kota sudah kotor. Airnya berwarna coklat, juga banyak sampah di sepanjang alirannya.

Akupun masih memandangi sungai hingga ku lihat dari kejauhan seperti sebuah sepatu berwarna merah ikut mengalir mengikuti jalur sungai. Tampaknya sepatu yang bagus dan ukurannya sama denagn ukuran kakiku. Sayangnya, sepatu yang bagus itu harus terjebak di tengah sungai. “Siapa yang membuang sepatu itu? Mana pasangannya? Kenapa sepatu sebagus itu dibuang?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam otakku mengenai sepatu merah itu. Terus terkatung-katung di tengah aliran sungai, hingga akhirnya ia harus menyangkut di atas batu di tengah sungai. Benar-benar menyangkut dan tidak dapat bergerak.

Refleks aku merasakan suatu nasib yang sama dengan sepatu tersebut. Suatu rasa yang yang sama untuk saat ini. Sama-sama terjebak di tengah hujan yang lebat. Hujan yang seharusnya belum pentas dan berakting di tengah setting musim kemarau seperti saat ini. Yang mengharuskan aku dan sepatu merah menunggu tak tentu sampai kapan dan tak tahu akan bagaimana. (Nv)

(15 September 2009)

supernovaeins.wordpress.com

February 11, 2010 Posted by | Tulisan_Q | | Leave a Comment

22 Desember 2009

Salam tersayang dan terima kasihku,

Mama, itu panggilanku kepada mama. Seorang manusia yang sempurna dan tidak ada duanya di dunia ini. Seorang wanita yang cantik, pintar, dan cerdas. Sosok wanita yang tegar, bijaksana, adil, dan pengertian. Dan bagiku, mama adalah pencerminan sosok ibu yang lebih dari seorang ibu biasa. Mungkin setiap anak akan mengatakan hal yang sama kepada ibu mereka masing-masing. Tapi, aku yakin tidak ada dan tidak akan ada yang dapat menyatakan hal ini seperti caraku menyatakannya kepada mama. Karena ini spesial dengan setulus hati. Dengan semua rasa hormat dan terima kasihku kepada mamaku tersayang. Di sini aku hanya bisa berharap, mama akan menyukainya.

Kini, 15 tahun berlalu semenjak mama berjuang melahirkanku, menghadirkan aku di dunia, antara hidup dan mati. Saat ini, aku menyadari suatu hal, bahwa Tuhan benar-benar menyayangi umat-umat-Nya. Itu semua terbukti saat aku dilahirkan oleh mama, saat mama menjadi ibuku dan bukan orang lain. Mama, betapa aku sangat mensyukurinya.

Sekarang akan ku sampaikan ucapan-ucapan terima kasih hanya untukmu.

Kedua kakiku : ” Empat belas tahun yang lalu, telah 1 tahun aku berada di dunia, tetapi aku belum dapat melakukan apapun. Sampai-sampai mama selalu menggendong pemilikku. Mengantarkannya kemanapun ia akan pergi. Padahal, bulan demi bulan, pemilikku bertambah besar dan berat. Itu karena dia tumbuh, begitu juga aku. Meskipun mama tidak pernah sekalipun menampakkannya aku tahu, pasti mama capai dan lelah. Tetapi, senyum selalu mengembang di bibir mama. Saat itu, aku ingin berteriak, “Maafkan aku!” , tapi aku tak bisa.

Dan aku mulai bergerak. Ku usahakan agar otot-ototku yang masih kaku dapat berfungsi. Perlahan dan akhirnya aku bisa. Awalnya berat memang menopang tubuh permata hatimu ini karena ia kini telah tumbuh. Karena alasan itu pula, tanpa sengaja aku menjatuhkannya. Suara tangis pun mengagetkan mama yang sedang beristiahat. Gara-gara aku waktu istirahat mama terganggu. Tapi, mama tidak marah. Mama tertawa. Mama senang hanya karena melihat pemilikku dapat berdiri. Apakah mama tahu, senyum mama itu menambah semangatku untuk dapat terus berusaha membuat mama senang.

Lalu aku mulai untuk terus berjalan, dengan mama di sampingku, yang selalu siap menangkapku jika aku terjatuh. Mama yang selalu memujiku dengan sebutan ‘anak pintar’, yang selalu bersabar mengajarkannya hingga kini, di usianya yang beranjak dewasa, ia dapat berdiri, berjalan, berlari, melompat, bahkan menari.

Dengan semua yang mama berikan kepadaku saat itu, tidak ada yang dapat aku berikan selain ucapan terima kasih. Terima kasih mama.”

Kedua tanganku : “ Mama, sebelumnya aku ingin sekali meminta maaf. Meminta maaf atas semua perbuatanku yang selalu menyusahkan mama. Yang selalu membuat mama marah, sedih, perih, takut dan risau kepada pemiliku. Bagaimana tidak, semua permasalahan yang dialami putri kesayanganmu itu bersumber dari aku. Saat ia merasa gatal-gatal, itu semua karena ulahku yang senang sekali bermain dengan semua yang kotor-kotor. Sampai-sampai mama memarahinya. Aku tahu mama selalu ingin yang terbaik untuk anakmu. Dan untukku, maafkan aku mama.

Selanjutnya, saat ia merasa mual dan tidak enak badan. Itu juga berakar dariku yang tak pernah mau mencuci diriku terlebih dahulu sebelum menyentuh kue buatan mama yang super lezat itu. Tetapi , mama hanya menyalahkan diri mama sendiri atas apa yang terjadi kepadanya. Mama beranggapan, kue yang mama buat kurang steril sehingga menyebabkan buah hatimu sakit. Oh mama, aku ingin sekali menghukum diriku sendiri seberat-beratnya hingga mama tidak merasa sedih lagi. Dan untukku, maafkan aku mama.

Sebenarnya, banyak sekali kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat, sampai-sampai aku lupa untuk mengingatnya. Dan untuk semua yang tidak aku sebutkan, aku mohon, maafkanlah aku mama.

Meskipun begitu, mama ya tetap mama. Selalu saja mengajariku hal-hal yang positif. Salah satu dari jutaan hal positif yang mama berikan kepadaku adalah, mengajariku menulis. Ilmu dasar yang sangat berguna untukku. Yang menjadi kesukaanku hingga sekarang. Kini, aku dapat menulis semua khayalanku di kertas-kertas putih. Dan mudah-mudahan suatu saat nanti, dengan tulisan-tulisanku itu, aku dapat menghasilkan suatu yang berguna dan dapat membahagiakan mama tentunya. Amin. Mama, terima kasih atas semua yang telah kau berikan kepadaku selama ini.”

Mataku : ” Mama yang menjadikanku segalanya. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Sekali lagi terima kasih. Hmm… mama merupakan peran terbesar dalam diriku. Seseorang yang pertama kali aku lihat di dunia ini, ya mama. Seseorang yang pertama kali memberikan senyum termanis dan terhangat yang pernah aku lihat, ya mama. Seseorang yang pertama kali membuat aku tertawa di dunia ini, ya mama. Seseorang yang pertama kali membuatku nyaman, ya mama. Terima kasih mama.

Semua keindahan bunga-bunga, manisnya burung-burung yang berterbangan, cantiknya ikan-ikan yang sedang berenang, semua telah aku lihat di dunia ini. Selain semua fenomena alam itu, aku juga telah banyak melihat perbedaan antara kita yang berbuat baik atau kita yang berbuat buruk. Semua memiliki konsekuensinya masing-masing.

Berkat mama pula, aku dapat melihat fenomena sosial yang terjadi di dunia ini. Antara yang sering kita sebut “si Miskin” dan “si Kaya”. Aku juga dapat belajar membedakan antara sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk. Semuanya telah aku lihat. Mama juga selalu menjagaku untuk tidak melihat sesuatu yang jelek dan tidak mendidik. Aku sangat menyukainya. Terima kasih mama.

Dan dari semua yang pernah aku lihat di dunia ini, ada satu hal yang paling aku senangi dan selalu menuntun aku untuk senantiasa bersyukur. Selalu membuat pandanganku cerah. Yaitu, melihat wajah mama. Wajah mama yang secantik peri, bahkan cantiknya melebihi peri yang paling cantik yang pernah diciptakan Tuhan. Itulah mama. Terima kasih mama.”

Mulutku : “Ucapan baik selalu terdengar dari mulut mama. Kata-kata yang sebagian besar selalu membuatku dan pemilikku terbang. Dengan semua pujian yang engkau beri untukku, mama. Anak manis, anak baik, anak pintar, gadis cantik, itu semua hanya untukku. Betapa bahagianya aku melihat pemilikku bahagia.

Dengan semua itu, aku selalu berusaha berucap manis dan baik di hadapan semua orang yang aku temui. Selain untuk aku sendiri, aku juga melakukannya agar mama tidak merasa kecewa denganku. Mama, terkadang susah untuk menahan ucapan-ucapan buruk itu, saat aku marasa marah. Saat aku merasa kecewa dan kesal atas sesuatu yang terjadi dalam kehidupanku. Tapi, saat itu, entah kenapa aku selalu mengingat semua ucapan mama. Jadi, aku selalu berhasil menjauhkan perkataan-perkataan buruk itu. Hingga kini, aku merasa belum pernah sama sekali berkata buruk dalam hidupku. Dan aku mengatakan hal ini, hanya dengan satu tujuan, membuat mama bahagia.

Dan untuk semua kasih sayangmu, terima kasih mama.

Telingaku : “Aku merasa senang sekali kali ini. Betapa beruntungnya kamu memiliki seorang Ibu yang sangat menyayangimu. Seharusnya tak ada kata malas dan nggak mau bersyukur kepada Dia yang telah menciptakanmu. Apa sih yang kurang dari wanita, yang biasa kamu panggil mama itu? Beliau telah mencurahkjan seluruh kasih sayangnya untukmu, bahkan aku dapat merasakan betapa sayangnya beliau kepadamu. Betapa ia ingiun selalu melindungimu. Denagn semua nasehat-nasehatnya, dengan semua doa-doa yang ia panjatkan demi keselamatan dan kebahagiaanmu. Dan itu, khusus untuk kamu.

Dariku, aku mengucapkan banyak terima kasih. Semua yang telah mama beri sangat berarti bagiku. Nasihat, teguran, sapaan, semuanya hanya untuk kebaikanku dan pemilikku. Mama, kau yang terbaik yang pernah ada. Terima kasih mama.

Hatiku : ” Mungkin dari semuanya, aku yang paling sensitif mersakan limpahan kasih sayang yang mama beri untukku. Aku juga paling tahu semua yang pemilikku rasakan. Saat mama memarahinya karena suatu kesalahan yang diperbuat, dia merasa sangat sedih. Aku kesal saat itu. Saat ia telah melakukan apapun hanya demi mama, agar mama selalu tersenyum, saat itu terkadang hati mama sedang tak enak. Atau mungkin saat mama kurang mengerti apa yang dimaksud olehnya, mama kembali marah padanya. Meskipun ia tak menangis, tapi aku menangis. Aku merasa tak ada gunanya. Aku merasa semua yang aku lakukan sia-sia. Ini semua hanya opini dari pihak aku. Aku sendiri tak tahu apa yang mama rasakan saat itu. Tapi aku tak menyalahkan mama sekalipun. Mama selalu yang terbaik.

Selanjutnya aku menguatkan diri, menghentikan tangisku dan terus berlari mengejar apapun yang mama inginkan. Apapun yang membuat mama senang. Meskipun harus sakit, aku tak perduli. Rasanya damai sekali jika mama tidak murung. Aku sayang sekali sama mama. Bahkan, ini bukan lagi rasa sayang, melainkan lebih dari itu. Bila ada yang menyakiti hati mama, aku juga sakit. Ingin sekali membalas semua orang yang telah membuat hati mama terluka.

Terima kasih mama, atas semua kasih sayang yang telah kau berikan.

Aku : “ Mamaku yang paling aku sayangi, aku ingin mengucapkan berjuta-juta terima kasih dan berjuta-juta kata maaf kepada mama. Aku tak perduli meskipun aku dapat lelah menyatakannya, tapi tak akan aku biarkan diriku ini berhenti berucap maaf dan terima kasih, sampai aku merasa puas dan merasa pantas untuk berkata, aku telah berbakti kepada ibuku. Wanita yang telah melimpahkan semua kasih sayangnya kepadaku. Wanita yang telah mengorbankan apapun demi aku, hanya untuk aku. Seorang wanita yang di telapak kakinya terdapat surga yang sangat indah. Tempat dimana kehidupan kekal dan bahagia ada di sana. Aku tak akan berhenti meskipun sampai akhir hidupku. Meskipun itu hanya untuk mendapat restumu mama.

Mama, mungkin ini hanya sedikit pemberian dariku. Mudah-mudahan mama senang. Maaf, hanya ini yang dapat aku beri. Meskipun, mungkin tulisan-tulisan ucapan terima kasih ini kurang atau sangat kurang sekalipun untuk aku dapat meluapkan rasa terima kasihku, aku hanya ingin mama tahu, kalau aku sayang sekali sama mama. Mama adalah mutiaraku, sampai kapanpun.

Terima kasih mama.

Anakmu yang selalu menyayangimu,

Novaria Arimbi

supernovaeins.wordpress.com

February 11, 2010 Posted by | Tulisan_Q | , , | Leave a Comment

Nova Punya Blog…!!!!!!!!

Wah! Aku sudah punya blog! Ya… akunya agak “katrok” juga siy… Habis, masa aku baru buat blog waktu ada pelajaran bab membuat blog di sekolah.  Dasarnya aku juga yang “gaptek” alias gagap teknologi. Hehe… :p

Sebenarnya, akunya mau buat blog sejak aku mulai punya hobi nulis (kira-kira semenjak SMP). Pikirku waktu itu, aku bisa nulis cerpen-cerpenku di blogku. Dan semua orang bisa baca cerpen karyaku. Ya, karena gak tau cara buatnya, jadi kependem tuh niat buat blog. Nah…! Sekarang udah pumya blog, eee…. malah bingung mau aku isi apa. Kira-kira mau isi apa ya…???

February 7, 2010 Posted by | aQ... | | Leave a Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

January 24, 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.